Oleh = Asmar Hi. Daud
Harita Group selama ini dipromosikan sebagai motor pembangunan di Pulau Obi. Perusahaan ini menerima penghargaan di bidang HAM, bahkan mendapkan pujian dari DPRD Maluku Utara. Mereka menilai bahwa Harita Group telah berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.
Di atas kertas, narasi itu nampak meyakinkan. Ada program CSR, dukungan pendidikan, reklamasi, infrastruktur sosial, dan klaim keberlanjutan yang terus diulang-ulang dalam ruang publik.
Namun, kenyataan di lapangan menunjuk ke arah yang berbeda. Kematian pekerja lokal di kawasan industri Harita memunculkan kembali pertanyaan mendasar tentang keselamatan kerja dan penghormatan terhadap hak-hak dasar buruh.
Insiden fatal yang berulang menunjukkan bahwa perlindungan nyawa pekerja belum menjadi prioritas yang dijalankan secara konsisten. Ketika seseorang pergi bekerja tetapi tidak kembali dengan selamat, klaim kinerja HAM yang disematkan kepada Harita Group oleh SETARA Institute dan predikatnya sebagai Business and Human Rights (BHR) Early-Adopting Company kehilangan pijakan moral.
Di luar isu keselamatan kerja, masyarakat pesisir Obi menghadapi tekanan sosial ekologis yang semakin berat. Ekspansi industri mengubah bentang ruang hidup, mendorong penyempitan wilayah tangkap nelayan, dan memicu persoalan akses air bersih.
Program CSR mungkin memperbaiki sebagian indikator sosial, tetapi sekali lagi, ia tidak akan mampu menjawab kerusakan fondasi ekologis yang menopang kehidupan rumah tangga pesisir. Kesejahteraan yang hanya diukur melalui angka investasi, PAD, dan daftar kegiatan CSR mengabaikan pengalaman sehari-hari warga yang berhadapan langsung dengan polusi dan perubahan ekosistem.
Menggugat Harita Group di Pulau Obi berarti menggugat jurang antara citra dan kenyataan. Penghargaan HAM dan narasi bersih tidak boleh menjadi selimut yang menutupi kematian pekerja, kerentanan ekologis, dan hilangnya ruang hidup masyarakat.
Ukuran utama penghormatan HAM bukan pada jumlah plakat di dinding kantor, melainkan seberapa aman pekerja di lapangan, seberapa sehat lingkungan tempat masyarakat hidup, dan seberapa jauh suara warga didengar dalam pengambilan keputusan.
Pulau Obi membutuhkan standar keberlanjutan yang lebih jujur. Evaluasi terhadap Harita Group harus bertumpu pada data independen, pengalaman masyarakat, dan pengukuran sosial ekologis jangka panjang. Selama hak atas keselamatan kerja, lingkungan yang layak, dan ruang hidup yang adil belum terjamin, klaim kesejahteraan dan penghormatan HAM dari Harita Group patut terus digugat secara akademis maupun politik.



