Oleh = Asmar Hi. Daud
Dalam wacana tambang modern sering muncul pola tertentu, bahasa teknis dipakai untuk memberi kesan ilmiah, lalu maknanya digeser perlahan sampai publik percaya semuanya sudah terkendali dan aman.
Salah satu contohnya terlihat ketika sebuah berita mengaitkan pengelolaan air tambang HARITA Nickel di Pulau Obi dengan rujukan SNI 6738 tahun 2015, sambil menyelipkan klaim bahwa kualitas air “sangat baik”.
Masalahnya bukan pada upaya mengelola air, karena itu wajib dan patut. Namun yang menjadi persoalan adalah logika atau cara membuktikannya. Yang kita pahami SNI 6738:2015 adalah Standar Nasional Indonesia tentang “Perhitungan Debit Andalan Sungai dengan Kurva Durasi Debit” sebagai sebuah metode, Debit andalan hanya menunjukkan seberapa banyak air yang tersedia, bukan seberapa bersih atau aman air tersebut.
Mencampurkan keduanya itu sama seperti mengukur kapasitas tangki lalu menyimpulkan bahwa airnya layak untuk diminum. Tangkinya besar bisa benar, akan tetapi airnya aman untuk digunakan, belum tentu.
Artinya bahwa Debit andalan menjawab pertanyaan apakah air tersedia sepanjang periode tertentu atau tidak. Ukuran ini berguna untuk perencanaan ketersediaan air, sedangkan Mutu air menjawab pertanyaan yang sama sekali berbeda, yaitu apa yang dibawa oleh air tersebut.
Pada bagian itu parameter fisika, kimia, dan biologi menjadi penentu, misalnya TSS atau kekeruhan, pH, DO, serta COD dan BOD untuk konteks tertentu. Selain itu perlu diuji logam seperti Ni, Fe, Mn, dan Cr sesuai sumber risikonya, ditambah indikator biologis tertentu atau yang relevan.
Jadi walaupun debitnya cukup, air tetap bisa membawa sedimen yang tinggi, terutama saat hujan. Air juga dapat mengangkut logam dalam bentuk terlarut maupun tersuspensi. Dampaknya kemudian terasa di muara dan perairan pesisir melalui proses akumulasi.
Maka, perlu ditegaskan lagi bahwa debit menjawab pertanyaan “berapa liter air yang lewat” pada satuan waktu tertentu, sedangkan mutu menjawab pertanyaan “apa kandungan di dalam setiap liter air itu”. Mengganti pembahasan mutu dengan angka debit bukan bentuk penyederhanaan. Itu salah kategori, karena ukuran kuantitas dipakai untuk mengesankan kualitas.
Dalam konteks komunikasi publik, praktik seperti ini bisa dinilai menyesatkan dan berpotensi menjadi pembohongan publik.
Klaim “kualitas sangat baik” tanpa data
Dalam berita tersebut, publik disuguhi kalimat yang bernada final bahwa kualitas air sangat baik pada titik tertentu. Namun pembaca tidak diberi “bukti kerja” yang membuat klaim itu layak disebut ilmiah, berupa angka hasil uji, lokasi dan koordinat titik sampling, waktu pengambilan sampel, metode pengambilan dan analisis, identitas laboratorium beserta akreditasinya, baku mutu pembanding yang dipakai, serta gambaran variasi musiman. Tanpa perangkat itu, yang tersedia baru sebatas testimoni bukan pengakuan berbasisi data.
Di sektor ekstraktif, verifikasi data bukan pelengkap, tetapi adalah dasar kepercayaan publik. Sebab dampaknya tidak berhenti ruang diskusi atau di atas kertas. Dampak itu nyata di sumur warga, di muara, di terumbu karang, di perahu nelayan, dan pada akhirnya masuk ke tubuh manusia lewat rantai pangan.
Infrastruktur pengelolaan air
Sumber lain memang menyebut adanya inovasi pengelolaan air, seperti pemanfaatan air laut, daur ulang jutaan meter kubik air, pembangunan banyak kolam sedimentasi, serta kegiatan pemantauan. Itu dapat menunjukkan bahwa sebuah sistem sudah dibangun. Namun keberadaan sistem belum otomatis berarti sistem itu efektif di hilir.
Yang menentukan adalah kinerjanya, misalnya bagaimana tren kualitas air di hilir pada lintasan sungai, muara, hingga teluk dari waktu ke waktu. Perlu juga dilihat apakah terjadi lonjakan kekeruhan saat hujan ekstrem, bagaimana kondisi biota indikator, serta sejauh mana kepatuhan outlet pembuangan terhadap baku mutu pada berbagai kondisi operasi.
Jika sebuah perusahaan besar seperti HARITA Nickel benar-benar “SERIUS”, maka hal yang paling meyakinkan bukan kalimat pujian, melainkan deret data yang terbuka dan bisa diuji ulang.
Jangan jadikan SNI sebagai jubah
Mengutip standar itu baik, mengutip standar yang tepat jauh lebih baik. Masalahnya, SNI 6738 edisi 2015 berada di ranah hidrologi kuantitatif, khususnya untuk debit andalan dan kurva durasi debit. Ketika standar ini dipakai untuk “mengunci” pembicaraan tentang mutu air, yang terjadi adalah kesalahan logika. Analogi sederhananya begini, peta jalan membantu kita tahu rute, tetapi peta tidak pernah bisa menggantikan uji emisi.
Tulisan ini tidak menyimpulkan bahwa pengelolaan air tambang di Obi pasti buruk. Goresannya hanya menyampaikan satu hal yang lebih sederhana dan lebih penting bagi ilmu, bahwa klaim besar harus ditopang bukti yang sepadan. Ketika debit andalan dipakai seolah-olah mewakili mutu air, publik wajar curiga bahwa yang terjadi bukan edukasi, melainkan narasi teknis yang dipermanis.
Akhirnya, “KESERIUSAN” bukan soal klaim, melainkan soal pembuktian. Keseriusan akan nampak pada dataset yang rapi, metode yang bisa diulang, dan keterbukaan yang memungkinkan siapa pun, warga, kampus, DPRD, bahkan perusahaan lain, menguji lalu menyimpulkan bahwa sistem itu benar-benar bekerja.




