Oleh = Asmar Hi. Daud
Tulisan ini disusun ulang dari unggahan akun Facebook Tongata Jungle pada 24 Desember 2025.
Pertanyaan Abubakar Manuai terdengar sederhana, tapi sungguh tajam. Jika tambang. dinilai merusak, mengapa sekolah pertambangan dibuka dan anak muda didorong masuk ke sana. Pertanyaan itu menyentuh dua hal yang sering bertengkar, nurani dan perut. Nurani meminta konsisten, perut meminta aman. Di daerah ekstraktif, dua kebutuhan ini jarang diberi ruang untuk berdamai, padahal keduanya manusiawi.
Ruang komentar memperlihatkan potret batin kolektif.
Ada yang berkata masalahnya bukan pengetahuan tambang, tetapi kerusakan lingkungan dan lemahnya pengawasan.
Ada yang ingin anak muda belajar teknik lingkungan agar bisa membaca data air, sedimen, dan debu, lalu menagih janji perusahaan dengan bukti.
Ada yang memilih tutup saja semua sebab hidup menemukan jalan.
Ada pula yang getir karena pengalaman kerja, anak lokal hanya menjadi roda kecil, praktik dianggap formalitas, sementara laporan dirapikan agar cocok dengan selera korporat.
Namun emosi tidak otomatis menjadi kebijakan. Pertanyaan awal sering mengandung jebakan nalar yang memaksa kita memilih dua pintu sempit. Menolak tambang berarti menolak sekolah tambang, menerima sekolah tambang berarti menerima tambang apa adanya. Dunia nyata tidak taat pada dua pintu.
Teluk Buli memikul masalah kusut dengan banyak pelaku, banyak nilai, dan banyak akibat lanjutan. Kritik terhadap tambang pun berlapis, dari ruang hidup yang menyusut sampai rasa tidak adil ketika manfaat dan risiko dibagi tanpa suara warga.
Sekolah kejuruan, pada dasarnya, adalah gudang kemampuan. Gudang ini bisa dipakai untuk memperpanjang umur ekstraksi, bisa juga dipakai untuk mengendalikan dampak dan menyiapkan jalan keluar. Maka pertanyaannya bergeser. Bukan apakah sekolah harus ada atau tidak, tetapi sekolah ini melayani masa depan yang mana. UNESCO mendorong transformasi pendidikan vokasi agar relevan dengan transisi yang lebih hijau, lebih inklusif, dan lebih adil.
Bayangkan sekolah pertambangan sebagai sekolah transisi. Anak belajar membaca dokumen AMDAL, memantau kualitas air dan sedimen, memahami keselamatan kerja, menilai reklamasi, dan memeriksa rencana penutupan tambang.
Di Indonesia, kewajiban reklamasi dan pascatambang termasuk penyediaan jaminan sudah diatur, jadi pemulihan bukan hadiah, tetapi kewajiban yang dapat ditagih lewat audit yang terbuka. Dengan cara itu, pengetahuan tidak menjadi alat pembenaran, tetapi menjadi alat ukur yang bisa dipakai warga untuk menolak, menegosiasikan, dan mengoreksi.
Namun, transisi yang waras tidak boleh memutus dapur. Menyuruh orang berhenti bekerja tanpa jembatan nafkah hanya mempercepat konflik. ILO menekankan bahwa transisi yang adil membutuhkan dialog sosial, perlindungan sosial, dan pengembangan keterampilan agar perubahan ekonomi tidak berubah menjadi krisis.
Di sinilah kegelisahan Abubakar dan kegelisahan para pengkritik saling bersentuhan. Keduanya ingin hidup tetap berjalan, hanya berbeda pada arah dan tingkat kepercayaan pada tata kelola.
Teluk Buli seperti rumah yang sedang memasak untuk banyak orang. Kompor yang menyala membuat dapur hidup, tapi asapnya bisa pelan pelan merusak paru paru bila tidak ada ventilasi, pengukur udara, dan aturan kapan api harus dikecilkan.
Yang waras adalah tetap memasak sambil membangun cerobong, menyiapkan bahan pangan lain dari kebun sendiri, dan memastikan siapa pun yang menyalakan api wajib membersihkan dapur, bukan meninggalkan jejak kotoran-beban-masalah untuk gene anak cucu kami.



